Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

ABS Aparatur Bapak Senang di Era Birokrasi Modern, Antara Loyalitas Semu dan Krisis Kebenaran

ABS Aparatur Bapak Senang di Era Birokrasi Modern, Antara Loyalitas Semu dan Krisis Kebenaran
Oleh: Eddy Supriadi

Di era ketika pemerintah daerah berlomba lomba mengusung jargon transformasi birokrasi, digitalisasi pelayanan, dan tata kelola pemerintahan modern, sesungguhnya masih ada satu sistem yang tetap bertahan dengan kokoh dan sulit ditaklukkan oleh regulasi apa pun, yaitu ABS (Asal Bapak Senang). Sistem ini tidak tercantum dalam struktur organisasi, tidak tertulis dalam RPJMD, tidak diajarkan dalam pelatihan kepemimpinan ASN, tetapi pengaruhnya sering kali lebih kuat daripada Undang-Undang, peraturan pemerintah, bahkan indikator kinerja itu sendiri.

ABS adalah fenomena klasik yang terus berevolusi. Dahulu ia hadir dalam bentuk pujian langsung kepada atasan, kini ia tampil lebih modern melalui infografis, pencitraan digital, laporan kinerja yang dipoles, hingga narasi media sosial yang menjadikan persepsi lebih penting daripada realitas. Jika dahulu bawahan membawa map berisi laporan yang menyenangkan atasan, kini mereka membawa slide presentasi yang membuat masalah tampak seperti keberhasilan.

Secara satir dapat dikatakan bahwa dalam birokrasi ABS, masalah bukan untuk diselesaikan tetapi untuk disamarkan. Kegagalan bukan untuk dievaluasi tetapi untuk dikemas ulang menjadi keberhasilan. Kritik bukan dianggap vitamin organisasi, melainkan virus yang harus diisolasi. Akibatnya rapat lebih sering menjadi forum konfirmasi daripada forum koreksi. Semua tampak baik baik saja, sampai kenyataan membuktikan sebaliknya.

Dalam perspektif Max Weber, birokrasi modern dibangun atas dasar rasionalitas, aturan, kompetensi, dan impersonalitas. Namun budaya ABS justru menghidupkan kembali pola birokrasi patrimonial yang seharusnya telah ditinggalkan. Hubungan kerja tidak lagi berbasis sistem, tetapi berbasis selera kekuasaan. Kebenaran menjadi relatif, tergantung siapa yang menyampaikan dan kepada siapa disampaikan.

Pandangan Weber tersebut diperkuat oleh teori Frederick W. Taylor tentang manajemen ilmiah yang menekankan efisiensi berdasarkan fakta dan pengukuran objektif. Dalam birokrasi ABS, fakta sering dikalahkan oleh persepsi. Data tidak lagi berfungsi sebagai alat pengambilan keputusan, melainkan sebagai alat legitimasi keputusan yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, birokrasi tidak lagi mencari kebenaran melalui data, tetapi mencari data yang sesuai dengan keinginan kekuasaan.

Dari perspektif teori modern, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep Organizational Silence yang dikembangkan Morrison dan Milliken. Organisasi mengalami kebungkaman kolektif ketika anggota organisasi takut menyampaikan informasi yang bertentangan dengan pandangan pimpinan. Dalam kondisi demikian, aparatur lebih memilih diam daripada jujur, lebih memilih aman daripada benar, dan lebih memilih loyal kepada individu daripada loyal kepada institusi.

Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar organisasi bukanlah turbulensi, melainkan bertindak dengan logika kemarin untuk menghadapi persoalan hari ini. Ironisnya, budaya ABS membuat birokrasi terjebak dalam logika masa lalu. Pemerintah berbicara tentang Artificial Intelligence, Smart Government, dan Digital Governance, tetapi pola pikir yang digunakan masih feodal asal pimpinan puas, urusan selesai."

Secara manajerial, ABS melahirkan apa yang disebut echo chamber leadership, yaitu kondisi ketika pemimpin hanya mendengar suara yang ingin didengarnya. Kritik tersingkir, masukan objektif dianggap ancaman, sementara pujian menjadi mata uang politik dan birokrasi. Akibatnya pemimpin kehilangan kemampuan membaca risiko, organisasi kehilangan kemampuan belajar, dan kebijakan kehilangan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat.

Fenomena ini sesungguhnya telah lama diperingatkan oleh filsuf Yunani Plato. Dalam The Republic, Plato mengingatkan bahwa pemimpin yang dikelilingi para penjilat akan kehilangan akses terhadap kebenaran dan pada akhirnya menjadi tawanan persepsinya sendiri. Apa yang disampaikan lebih dari dua ribu tahun lalu itu masih sangat relevan bagi birokrasi daerah saat ini. Banyak pemimpin tidak gagal karena kurang cerdas, tetapi karena terlalu lama hidup dalam lingkungan yang tidak berani berkata jujur.

Secara regulatif, budaya ABS bertentangan dengan semangat Undang Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN, yang menekankan profesionalisme, integritas, dan sistem merit. Ia juga bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik dalam Undang Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, terutama asas keterbukaan, akuntabilitas, kecermatan, dan kepentingan umum. Namun regulasi yang baik akan kehilangan makna ketika budaya organisasi masih menempatkan loyalitas personal di atas loyalitas konstitusional.

Dari perspektif filsafat moral, ABS merupakan bentuk krisis etika publik. Immanuel Kant menegaskan bahwa kejujuran adalah kewajiban moral yang tidak boleh dikorbankan demi keuntungan apa pun. Sebaliknya dalam budaya ABS, kebenaran sering dinegosiasikan demi kenyamanan jabatan. Aparatur tidak lagi bertanya "apakah ini benar?", tetapi "apakah ini menyenangkan atasan?". Pada titik inilah birokrasi kehilangan ruh pengabdian dan berubah menjadi arena reproduksi kepentingan.

Refleksi yang paling penting adalah bahwa ABS bukan sekadar persoalan bawahan. Ia juga cermin kualitas kepemimpinan. Sebab tidak akan ada budaya ABS jika pemimpin menghargai kritik, membuka ruang dialog, dan memberi perlindungan kepada aparatur yang menyampaikan fakta. Sebaliknya, semakin kuat budaya ABS, semakin besar kemungkinan organisasi sedang mengalami defisit kepemimpinan.

Karena itu, reformasi birokrasi yang sesungguhnya bukanlah sekadar mengganti aplikasi, menyusun indikator kinerja baru, atau memperbanyak slogan pelayanan publik. Reformasi yang paling mendasar adalah membangun keberanian moral untuk mengatakan yang benar meskipun tidak menyenangkan, dan membangun kebijaksanaan kepemimpinan untuk menerima kritik meskipun tidak nyaman.

Sebab pada akhirnya, daerah tidak akan maju karena banyaknya baliho keberhasilan, banyaknya seremoni, atau banyaknya laporan yang indah dibaca. Daerah hanya akan maju ketika pemimpinnya berani mendengar kenyataan dan aparaturnya berani menyampaikan kebenaran. Karena dalam sejarah pemerintahan, keruntuhan sering kali tidak diawali oleh kurangnya pujian, melainkan oleh hilangnya keberanian untuk berkata jujur. Itulah tragedi terbesar birokrasi ABS semua terlihat baik-baik saja, sampai kenyataan membuktikan bahwa tidak ada yang benar benar baik-baik saja.