Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Dewasa dan Kedewasaan Berorganisasi

Dewasa dan Kedewasaan Berorganisasi
Rahmad Firdaus Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Dewasa dalam berorganisasi bukan sekadar persoalan usia, lamanya pengalaman dan banyaknya organisasi yang dijalani, melainkan tentang kualitas sikap dalam menghadapi dinamika bersama. Realitas hari ini menunjukkan bahwa banyak individu aktif dalam organisasi, tetapi belum sepenuhnya matang dalam berpikir dan bertindak. Individu yang matang tidak mudah reaktif, tidak tersinggung saat dikritik, serta mampu menjaga hubungan kerja yang harmonis. Ia tetap tenang dalam konflik dan mampu melihat masalah secara jernih Konflik sering muncul bukan karena perbedaan tujuan, melainkan karena ego, komunikasi yang tidak sehat, dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Robbins dan Judge menegaskan bahwa perilaku individu sangat menentukan efektivitas organisasi. Artinya, sehebat apa pun sistem yang dibangun, organisasi tidak akan berjalan optimal jika diisi oleh individu yang belum dewasa secara sikap dan pola pikir.

Salah satu indikator utama kedewasaan adalah kemampuan mengelola emosi atau kecerdasan emosional, terutama dalam situasi yang penuh tekanan dan perbedaan pendapat. Pada kenyataannya, tidak sedikit rapat organisasi berubah menjadi ajang debat yang tidak produktif, bahkan berujung pada konflik personal. Hal ini menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional, yang oleh Goleman disebut sebagai kemampuan penting dalam mengelola diri dan hubungan sosial. Individu yang dewasa tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif terhadap kritik, dan mampu mendengar sebelum merespons. Kedewasaan justru terlihat ketika seseorang mampu tetap tenang dalam perbedaan dan fokus pada solusi, bukan pada kemenangan argumen.

Selain itu, kedewasaan berorganisasi juga tercermin dari komitmen dan tanggung jawab dalam berorganisasi. Fenomena yang sering terjadi adalah munculnya sikap pragmatis, di mana seseorang hanya aktif ketika memiliki jabatan atau kepentingan tertentu. Dalam banyak kasus, anggota organisasi terlihat antusias di awal, tetapi mulai pasif ketika tidak mendapatkan posisi strategis. Hal ini menunjukkan lemahnya komitmen organisasi dan komitmen organisasi yang kuat lahir dari kesadaran, bukan paksaan atau kepentingan sesaat.sebagaimana dijelaskan oleh Meyer dan Allen. Individu yang dewasa tidak bekerja karena posisi, tetapi karena kesadaran akan peran dan kontribusinya. Ia tetap hadir, bekerja, dan memberi nilai, bahkan ketika tidak berada di panggung utama.

Dimensi lain yang tidak kalah penting dalam berorganisasi adalah sikap profesional dan etika kerja. Robbins dan Judge menekankan bahwa perilaku kerja yang disiplin, berintegritas, dan rasional merupakan kunci dalam menciptakan organisasi yang efektif. Individu yang dewasa mampu menghargai aturan, menjaga komitmen, waktu, serta tidak mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Ia juga menjaga komunikasi yang sopan dan objektif, baik dalam situasi formal maupun informal. Tanpa etika kerja yang baik, organisasi akan mudah kehilangan arah karena diisi oleh individu yang tidak memiliki standar perilaku yang jelas. Dewasa dalam berorganisasi juga tercermin dari kemampuan berkomunikasi dan mengelola konflik. Perbedaan pendapat dalam organisasi adalah hal yang tidak terhindarkan, bahkan diperlukan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik. Menurut Yukl, efektivitas kepemimpinan dan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi yang dibangun. Individu yang dewasa mampu mendengarkan, tidak memaksakan kehendak, serta menyampaikan kritik secara konstruktif. Ia fokus pada solusi, bukan memperbesar masalah, dan mampu meredam konflik, bukan memperkeruh situasi. Banyak organisasi gagal bukan karena ide yang buruk, tetapi karena komunikasi yang tidak sehat.

Kedewasaan dalam berorganisasi juga terlihat dari kepedulian terhadap tim melalui perilaku sukarela di luar tugas formal atau organizational citizenship behavior (OCB). Budaya kerja dalam organisasi juga sering terjebak pada pola “kerja sesuai tugas saja”, tanpa inisiatif membantu rekan yang kesulitan. Misalnya, ketika satu tim mengalami keterlambatan pekerjaan, sebagian anggota memilih diam dengan alasan bukan tanggung jawabnya. Padahal, Organ menegaskan bahwa perilaku sukarela seperti membantu dan menjaga hubungan kerja merupakan kunci efektivitas organisasi. Individu yang dewasa akan memahami bahwa keberhasilan organisasi bukan hasil kerja individu, melainkan hasil kolaborasi yang saling menguatkan. Kedewasaan dalam berorganisasi terlihat dari kesediaan untuk melampaui peran formal. Jika setiap orang hanya bekerja sebatas kewajiban, maka organisasi akan berjalan, tetapi tidak akan pernah berkembang.

Dewasa dan kedewasaan dalam berorganisasi adalah proses belajar yang terus berkembang dan berkelanjutan, bukan sesuatu yang instan. Argyris menekankan bahwa pembelajaran terjadi ketika individu dan organisasi mampu mengevaluasi serta memperbaiki kesalahan secara bersama. Dalam realitasnya, organisasi yang belum dewasa cenderung saling menyalahkan ketika terjadi kegagalan, sedangkan organisasi yang dewasa akan fokus pada evaluasi dan perbaikan. Di sinilah kedewasaan diuji apakah kita memilih mempertahankan ego atau bertumbuh bersama. Oleh karena itu, menjadi dewasa dalam berorganisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi siapa pun yang ingin membangun organisasi yang kuat, sehat, dan berkelanjutan. Karena organisasi yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang sempurna, tetapi oleh mereka yang mau belajar, mau berubah, dan mampu menahan ego demi tujuan bersama. Jika kedewasaan tidak menjadi fondasi, maka organisasi hanya akan menjadi tempat berkumpul bukan tempat bertumbuh dan berkelanjutan.