Dewasa dan Kedewasaan Berorganisasi
Dewasa dalam berorganisasi bukan sekadar persoalan usia, lamanya
pengalaman dan banyaknya organisasi yang dijalani, melainkan tentang kualitas
sikap dalam menghadapi dinamika bersama. Realitas hari ini menunjukkan bahwa
banyak individu aktif dalam organisasi, tetapi belum sepenuhnya matang dalam
berpikir dan bertindak. Individu yang matang tidak mudah reaktif, tidak
tersinggung saat dikritik, serta mampu menjaga hubungan kerja yang harmonis. Ia
tetap tenang dalam konflik dan mampu melihat masalah secara jernih Konflik
sering muncul bukan karena perbedaan tujuan, melainkan karena ego, komunikasi
yang tidak sehat, dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Robbins dan Judge
menegaskan bahwa perilaku individu sangat menentukan efektivitas organisasi.
Artinya, sehebat apa pun sistem yang dibangun, organisasi tidak akan berjalan
optimal jika diisi oleh individu yang belum dewasa secara sikap dan pola pikir.
Salah satu indikator utama kedewasaan adalah kemampuan mengelola emosi
atau kecerdasan emosional, terutama dalam situasi yang penuh tekanan dan
perbedaan pendapat. Pada kenyataannya, tidak sedikit rapat organisasi berubah
menjadi ajang debat yang tidak produktif, bahkan berujung pada konflik
personal. Hal ini menunjukkan rendahnya kecerdasan emosional, yang oleh Goleman
disebut sebagai kemampuan penting dalam mengelola diri dan hubungan sosial.
Individu yang dewasa tidak mudah tersulut emosi, tidak reaktif terhadap kritik,
dan mampu mendengar sebelum merespons. Kedewasaan justru terlihat ketika
seseorang mampu tetap tenang dalam perbedaan dan fokus pada solusi, bukan pada
kemenangan argumen.
Selain itu, kedewasaan berorganisasi juga tercermin dari komitmen dan
tanggung jawab dalam berorganisasi. Fenomena yang sering terjadi adalah
munculnya sikap pragmatis, di mana seseorang hanya aktif ketika memiliki
jabatan atau kepentingan tertentu. Dalam banyak kasus, anggota organisasi terlihat
antusias di awal, tetapi mulai pasif ketika tidak mendapatkan posisi strategis.
Hal ini menunjukkan lemahnya komitmen organisasi dan komitmen organisasi yang
kuat lahir dari kesadaran, bukan paksaan atau kepentingan sesaat.sebagaimana
dijelaskan oleh Meyer dan Allen. Individu yang dewasa tidak bekerja karena
posisi, tetapi karena kesadaran akan peran dan kontribusinya. Ia tetap hadir,
bekerja, dan memberi nilai, bahkan ketika tidak berada di panggung utama.
Dimensi lain yang tidak kalah penting dalam berorganisasi adalah sikap
profesional dan etika kerja. Robbins dan Judge menekankan bahwa perilaku kerja
yang disiplin, berintegritas, dan rasional merupakan kunci dalam menciptakan
organisasi yang efektif. Individu yang dewasa mampu menghargai aturan, menjaga
komitmen, waktu, serta tidak mencampurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan.
Ia juga menjaga komunikasi yang sopan dan objektif, baik dalam situasi formal
maupun informal. Tanpa etika kerja yang baik, organisasi akan mudah kehilangan
arah karena diisi oleh individu yang tidak memiliki standar perilaku yang
jelas. Dewasa dalam berorganisasi juga tercermin dari kemampuan berkomunikasi
dan mengelola konflik. Perbedaan pendapat dalam organisasi adalah hal yang
tidak terhindarkan, bahkan diperlukan untuk menghasilkan keputusan yang lebih
baik. Menurut Yukl, efektivitas kepemimpinan dan organisasi sangat ditentukan
oleh kualitas komunikasi yang dibangun. Individu yang dewasa mampu
mendengarkan, tidak memaksakan kehendak, serta menyampaikan kritik secara
konstruktif. Ia fokus pada solusi, bukan memperbesar masalah, dan mampu meredam
konflik, bukan memperkeruh situasi. Banyak organisasi gagal bukan karena ide
yang buruk, tetapi karena komunikasi yang tidak sehat.
Kedewasaan dalam berorganisasi juga terlihat dari kepedulian terhadap tim
melalui perilaku sukarela di luar tugas formal atau organizational citizenship behavior (OCB). Budaya kerja dalam
organisasi juga sering terjebak pada pola “kerja sesuai tugas saja”, tanpa
inisiatif membantu rekan yang kesulitan. Misalnya, ketika satu tim mengalami
keterlambatan pekerjaan, sebagian anggota memilih diam dengan alasan bukan
tanggung jawabnya. Padahal, Organ menegaskan bahwa perilaku sukarela seperti
membantu dan menjaga hubungan kerja merupakan kunci efektivitas organisasi.
Individu yang dewasa akan memahami bahwa keberhasilan organisasi bukan hasil
kerja individu, melainkan hasil kolaborasi yang saling menguatkan. Kedewasaan
dalam berorganisasi terlihat dari kesediaan untuk melampaui peran formal. Jika
setiap orang hanya bekerja sebatas kewajiban, maka organisasi akan berjalan,
tetapi tidak akan pernah berkembang.
Dewasa dan kedewasaan dalam berorganisasi adalah proses belajar yang
terus berkembang dan berkelanjutan, bukan sesuatu yang instan. Argyris
menekankan bahwa pembelajaran terjadi ketika individu dan organisasi mampu
mengevaluasi serta memperbaiki kesalahan secara bersama. Dalam realitasnya,
organisasi yang belum dewasa cenderung saling menyalahkan ketika terjadi
kegagalan, sedangkan organisasi yang dewasa akan fokus pada evaluasi dan
perbaikan. Di sinilah kedewasaan diuji apakah kita memilih mempertahankan ego
atau bertumbuh bersama. Oleh karena itu, menjadi dewasa dalam berorganisasi
bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi siapa pun yang ingin
membangun organisasi yang kuat, sehat, dan berkelanjutan. Karena organisasi
yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang sempurna, tetapi oleh mereka
yang mau belajar, mau berubah, dan mampu menahan ego demi tujuan bersama. Jika
kedewasaan tidak menjadi fondasi, maka organisasi hanya akan menjadi tempat berkumpul
bukan tempat bertumbuh dan berkelanjutan.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan