Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Kesiapan Gen-Z dan Gen-Alpha Mewujudkan Generasi EMAS 2045

Kesiapan Gen-Z dan Gen-Alpha Mewujudkan Generasi EMAS 2045
Rahmad Firdaus Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pertiba

Generasi Emas 2045 adalah visi nasional Indonesia untuk mencapai tingkat kesejahteraan, daya saing, dan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejajar dengan negara maju pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2045. Visi ini menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, kesehatan, keterampilan sebagai kunci transformasi ekonomi dan sosial. Untuk mewujudkan visi ini, generasi yang sekarang masih remaja (Gen Z, lahir 1997–2012) dan anak-anak (Gen Alpha, lahir 2010–2024) menjadi tulang punggung tenaga kerja produktif, inovatif, dan adaptif pada tahun 2045. Pada tahun 1960-an, ekonom Gary Becker dan Theodore Schultz menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan merupakan investasi yang dapat menambah produktivitas. Saat dunia mengumpulkan lebih banyak modal fisik, biaya peluang untuk bersekolah menurun. Pendidikan menjadi komponen tenaga kerja yang semakin penting. Istilah ini juga diadopsi oleh keuangan perusahaan dan menjadi bagian dari modal intelektual, dan lebih luas lagi sebagai modal manusia

Gen Z dan Alpha hadir dan tumbuh bersama internet, smartphone, dan AI ini memberikan mereka keunggulan cepat dalam literasi teknologi dasar dan akses informasi. Pengetahuan digital sejak dini membentuk literasi teknologi dasar yang tinggi serta kemampuan mengakses informasi secara cepat, kemampuan teknis dan pemahaman AI/big data akan semakin penting untuk pekerjaan masa depan. Namun, literasi digital yang tersedia tidak otomatis berarti literasi yang produktif, misalnya kemampuan mengembangkan solusi, bukan hanya konsumsi. Laporan Future of Jobs 2025 menegaskan adanya mismatch keterampilan yang diprediksi naik permintaannya (AI, data, cybersecurity, kreativitas, kemampuan belajar terus-menerus) belum merata tersedia bagi generasi muda di banyak negara, termasuk Indonesia. Tanpa reformasi kurikulum dan pelatihan skala massal, bonus demografis bisa berubah jadi beban pengangguran terampil. Kualitas pendidikan dan ketimpangan akses. Kebijakan visional seperti Indonesia Emas 2045 menargetkan peningkatan pendidikan, tetapi realitas distribusi fasilitas, guru dan dosen berkualitas, dan link-to-work (hubungan pendidikan industri) masih tidak merata menciptakan “generasi dua kecepatan” Anak di daerah urban besar cenderung jauh lebih siap dibanding daerah terpencil.

Menurut hasil penelitian Herawati (2025) “The Effect of Internship Experience, Self-Efficacy and Soft Skills on Job Readiness Generation Z in Jabodetabek” menunjukkan bahwa pengalaman magang, self-efficacy, dan soft skills secara positif dan signifikan memengaruhi kesiapan kerja Gen Z. Selain itu, riset “Fostering Work Readiness in Gen Z …” (2024) menunjukkan bahwa kreativitas dan model quintuple helix (kolaborasi pemerintah-akademi-industri-masyarakat-media) penting untuk memajukan kesiapan kerja Gen Z. Penelitian lokal tentang work readiness Gen Z menyoroti gap pada aspek self-confidence, career guidance, dan motivasi kerja faktor penting agar keterampilan teknis bisa dimobilisasi dalam dunia kerja nyata. Kesiapan mental, ketahanan, dan kemampuan bekerja lintas-disiplin seringkali kurang mendapatkan perhatian sistematis. Untuk memastikan Gen Z dan Alpha benar-benar siap menjadi engine Generasi Emas 2045 diperlukan pendekatan yang terintegrasi, bukan hanya menambah pelatihan teknis.

1.      Reformasi Kurikulum Berbasis Keterampilan. Reformasi harus menempatkan penguasaan literasi digital lanjutan serta Kerangka Kerja Keterampilan Abad 21 (Trilling & Fadel, 2009) yang meliputi 4C: Critical thinking, Communication, Collaboration, and Creativity. Kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning) harus menjadi output utama, bukan sekadar mata pelajaran tambahan.

2.      Penerapan Model Quintuple Helix, seperti disinggung dalam riset tahun 2024, kolaborasi Quintuple Helix sangat krusial. Konsep yang dikembangkan oleh Carayannis et al. (2012) ini memperluas kolaborasi Triple Helix (Akademisi-Industri-Pemerintah) dengan menambahkan unsur Masyarakat (peran media/budaya) dan Lingkungan (keberlanjutan).

3.      Praktik Magang bermakna, project-based learning bersama industri, dan platform micro-credential untuk menutup jurang teori dan praktik.

4.      Kebijakan Inklusif dan Dukungan Psikososial. Pemerintah perlu fokus pada pemerataan infrastruktur digital untuk mencegah kesenjangan struktural (mengatasi first-level digital divide). Di sisi lain, program bimbingan karier dan layanan kesehatan mental di sekolah harus menjadi prioritas investasi SDM, mengingat kerentanan Gen Z terhadap tekanan mental di era digital.

5.      Ekosistem Inovasi, kebijakan makro insentif diperlukan untuk sektor padat kreativitas. Sesuai Teori Pertumbuhan Endogen (Romer, 1990), pertumbuhan ekonomi jangka panjang didorong oleh akumulasi pengetahuan dan inovasi. Oleh karena itu, regulasi yang mempermudah startup dan R&D adalah prasyarat mutlak.

Visi Indonesia Emas 2045 bertumpu sepenuhnya pada kualitas Gen Z dan Gen Alpha sebagai modal manusia strategis yang harus ditransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi inovator produktif melalui pendekatan pendidikan yang holistik dan adaptif. Tantangan nyata berupa mismatch keterampilan masa depan (seperti AI dan big data), ketimpangan akses digital antarwilayah, serta kesenjangan kesiapan mental dan soft skills menuntut adanya pergeseran sistemik yang tidak hanya mengandalkan pelatihan teknis, melainkan integrasi penguatan karakter, kompetensi (4C), dan lifelong learning. Sejalan dengan teori pertumbuhan endogen dan temuan riset terkini, keberhasilan visi ini mutlak memerlukan implementasi model kolaborasi Quintuple Helix (pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan lingkungan) serta reformasi kurikulum yang menekankan pada pengalaman magang bermakna dan dukungan kesehatan mental yang inklusif. Hanya dengan menciptakan ekosistem inovasi yang menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri serta memastikan pemerataan kesempatan inilah, bonus demografi dapat dikapitalisasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang, menghindarkan Indonesia dari beban pengangguran terampil demi tercapainya kesejahteraan yang setara dengan negara maju.