Strategi bertahan dan berkembang dalam upaya karyawan dalam mencari makna dan pertumbuhan di tengah situasi Job Hugging
Bagus
Pratama
Mahasiswa
Semester 5 Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Fenomena job
hugging semakin menonjol
dalam beberapa tahun terakhir. Survei ResumeBuilder.com terhadap 2.221
pekerja penuh waktu di Amerika Serikat pada Agustus 2025 menemukan bahwa
sekitar 45% pekerja dapat dikategorikan sebagai job huggers, yaitu pekerja yang
bertahan karena menganggap perpindahan kerja terlalu berisiko (ResumeBuilder,
2025). Dari jumlah tersebut, 95% responden menyebut kondisi pasar kerja yang
tidak menentu sebagai alasan utama,
sedangkan 77% menyatakan
bahwa perkembangan kecerdasan
buatan (AI) dan ketidakpastian ekonomi
membuat peluang kerja
baru semakin terbatas (ResumeBuilder, 2025). Fenomena
serupa juga terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia, meskipun istilah
job hugging belum populer. Data ketenagakerjaan nasional menunjukkan pola yang
mirip, di mana banyak pekerja cenderung bertahan pada pekerjaan yang tersedia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
proporsi pekerja informal
di Februari 2025 menyentuh
59,40% dari keseluruhan pekerja, dengan
arti lebih dari
setengah tenaga kerja
bekerja tanpa perlindungan
sosial dan kepastian pendapatan
(BPS, 2025). Di sisilain, tingkat pengangguran terbuka
(TPT) berada pada angka 4,76%, dengan jumlah penganggur meningkat dari 7,20
juta menjadi 7,28 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya (BPS, 2025). Angka ini memperlihatkan bahwa meskipun ada
penurunan persentase TPT, secara absolut jumlah pengangguran tetap tinggi.
Kondisi tersebut membuat banyak pekerja memilih bertahan daripada mengambil
risiko pindah kerja. Menurut laporan dari Forbes pada Oktober 2025, 75%
karyawan berencana untuk tetap bertahan di pekerjaan mereka hingga tahun 2027,
dan hampir setengahnya (48%) menyebut ketidakpastian ekonomi sebagai alasan
utama mereka tidak mencari pekerjaan baru. Fenomena ini, yang disebut sebagai
"merangkul pekerjaan" (job
hugging). Dalam definisi yang sederhana, Job Hugging adalah fenomena di mana karyawan memilih untuk tetap
bertahan di pekerjaan mereka saat ini, bukan didorong oleh kecintaan mendalam
pada pekerjaan tersebut, melainkan karena didominasi oleh motif rasa aman dan
keengganan untuk mengambil risiko pindah ke tempat lain atau merintis
wirausaha. Ini merupakan respons yang wajar dan rasional yang dipicu oleh berbagai
kondisi eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi global, maraknya gelombang
PHK, serta kekhawatiran terhadap masa depan kerja yang semakin kompetitif. Dengan kata lain, di tengah pasar kerja yang
lesu dan penuh risiko, banyak pekerja menilai bahwa bertahan di posisi yang
sudah ada adalah pilihan yang paling pragmatis untuk menjaga stabilitas
finansial dan menghindari potensi ancaman yang ada di luar. Meski terlihat
seperti masa stagnasi, periode job
hugging justru bisa menjadi peluang tersembunyi bagi karyawan untuk mencari
makna yang lebih dalam, mengasah keterampilan, dan mempersiapkan pertumbuhan
karier jangka panjang dengan strategi yang tepat.
Faktor Pendorong
Di
balik keputusan banyak orang untuk "memeluk erat" pekerjaannya saat
ini, terdapat sebuah dinamika psikologis yang kompleks. Pada dasarnya, dorongan
ini lahir dari dua sumber yang saling menguatkan: tekanan dari luar dan
ketakutan dari dalam. Bersama-sama, mereka membentuk sebuah mentalitas yang
menempatkan rasa aman sebagai prioritas utama, mengalahkan ambisi untuk
berkembang. Gelombang ketidakpastian eksternal menciptakan sebuah "badai
sempurna" yang mendorong karyawan untuk bertahan erat pada pekerjaannya.
Faktor yang paling menentukan adalah iklim ekonomi global yang lesu dan biaya
hidup yang terus meroket, yang bersamasama memicu kecemasan finansial akut dan
membuat stabilitas gaji bulanan menjadi harga mati yang tidak bisa
dipertaruhkan. Ditambah dengan gencarnya berita tentang gelombang PHK di
berbagai sektor industri, yang tidak hanya menjadi headline di media tetapi
telah menjadi semacam "trauma kolektif" di kalangan pekerja,
menanamkan keyakinan bawah sadar bahwa posisi yang sekarang adalah pelampung
keselamatan di tengah samudra ketidakpastian. Persoalan diperparah oleh realita
pasar kerja yang sangat kompetitif, di mana lowongan yang bermutu semakin
sedikit dan persaingannya begitu ketat, sehingga proses mencari pekerjaan baru
dirasakan seperti sebuah maraton yang melelahkan dengan peluang sukses yang
tidak menentu. Kombinasi mematikan dari ketiga tekanan eksternal inilah yaitu
ekonomi yang tidak bersahabat, ancaman PHK yang nyata, dan pasar kerja yang
jenuh yang pada akhirnya memaksa banyak karyawan untuk mengubur sementara
ambisi kariernya dan mengadopsi mentalitas "bertahan hidup", di mana
rasa aman jangka pendek mengalahkan semua potensi pertumbuhan jangka panjang.
Di balik tekanan eksternal, terdapat benteng psikologis internal yang tak kalah
kuatnya dalam memperkuat fenomena job hugging, yakni rasa takut akan
ketidakpastian yang bersarang di alam bawah sadar. Ketakutan ini sering kali
bermanifestasi sebagai "sindrom penipu" atau keraguan terhadap
kemampuan sendiri, di mana individu merasa dirinya tidak cukup kompeten untuk
bersaing di pasar kerja baru dan memilih bertahan demi menghindari risiko gagal
atau ditolak. Ditambah dengan kenyamanan yang diberikan oleh rutinitas dan
familiaritas dengan pekerjaan lama, yang meskipun mungkin tidak lagi menantang,
telah menjadi zona nyaman yang sulit ditinggalkan. Kebutuhan psikologis akan stabilitas dan
keamanan yang dalam hierarki kebutuhan Maslow merupakan fondasi pun menjadi
penggerak utama, di mana dalam situasi penuh gejolak, pikiran kita secara naluriah
akan mengutamakan rasa aman yang terprediksi daripada mengejar peluang
pertumbuhan yang penuh risiko. Pada akhirnya, faktor-faktor internal ini
menciptakan sebuah narasi pembenaran yang meyakinkan diri sendiri bahwa
"bertahan lebih baik", sebuah mekanisme pertahanan psikologis yang
memagari seseorang untuk tetap berada dalam situasi yang sudah dikenal,
sekalipun itu berarti mengorbankan potensi perkembangan karier dan kepuasan
kerja jangka panjang.
Menemukan why yang baru dalam peran yang sama
Strategi
ini adalah mengubah cara pandang dari "pekerjaan ini hanya untuk bertahan
hidup" menjadi "pekerjaan ini bisa memberiku makna baru".
Daripada terus merasa terjebak, coba cari tahu kembali apa yang membuat
pekerjaan menjadi penting. mulailah dengan cara sadari bahwa setiap tugas yang
Anda kerjakan, sekecil apa pun, punya dampak positif bagi tim, pelanggan, atau
perusahaan. Coba tanyakan pada diri sendiri atau atasan, bagaimana pekerjaan
Anda bisa mendukung tujuan besar perusahaan. Ini bisa membuat tugas harian
terasa lebih berarti. Bisa juga dengan Inisiatif untuk memperbaiki proses kerja
atau menyelesaikan masalah bisa memberi tantangan dan kepuasan baru. Cari cara
agar pekerjaan Anda bisa selaras dengan nilai-nilai yang Anda pegang, misalnya
dengan menjadi mentor bagi rekan kerja yang lebih muda. dan rayakan
keberhasilan kecil untuk membangun kembali rasa percaya diri dan motivasi.
Investasi pada
Pembelajaran dan Pengembangan Diri (Upskilling
& Reskilling)
Alih-alih
diam di tempat saat dilanda Job Hugging,
manfaatkan waktu ini untuk mengasah kemampuan yang sudah ada (upskilling) atau belajar keterampilan
baru yang benarbenar berbeda (reskilling).
mulailah dengan cara melihat keterampilan apa yang paling dicari saat ini,
terutama yang sulit digantikan AI, seperti analitik data, machine learning,
atau cybersecurity. Jika kesulitan bisa menggunakan platform daring seperti
Coursera, Udemy, atau LinkedIn Learning untuk mengikuti kursus dan sertifikasi
yang relevan. Banyak di antaranya bisa diakses secara gratis atau dengan biaya
terjangkau. Praktikkan keterampilan baru yang didapat dengan mengerjakan proyek
kecil di luar jam kerja. Ini tidak hanya memperdalam pemahaman, tapi juga
menjadi portofolio berharga.
Membangun Jejaring yang
Bermakna (Networking)
Sembari
menunggu sampai butuh pekerjaan baru, gunakan masa job hugging untuk membangun hubungan profesional yang tulus dan
berkualitas. Jangan hanya mengumpulkan kontak, tetapi fokus pada menjalin
relasi yang saling menguntungkan. Jangan mencoba terhubung dengan semua orang.
Cari dan fokuslah pada beberapa individu yang bisa menjadi mentor atau teman
diskusi yang sejalan dengan minat. Jalin hubungan dengan niat untuk memberi,
bukan hanya menerima. Berikan bantuan, bagikan informasi menarik, atau
perkenalkan mereka dengan orang lain yang bisa bermanfaat. Ini membuat hubungan
lebih kuat. Ajaklah berinteraksi secara personal dan tulus. Bicaralah tentang
hal-hal yang kalian sukai bersama, bukan hanya pekerjaan. Setelah bertemu,
jangan menghilang. Kirim pesan singkat sesekali atau bagikan artikel yang
relevan untuk menjaga hubungan tetap hangat.
Mengelola Kesehatan
Mental dan Energi
Fase
job hugging dapat menjadi beban berat
secara mental karena perasaan terjebak, stagnasi, dan hilangnya motivasi. Oleh
karena itu, mengelola kesejahteraan mental dan energi menjadi sangat penting
agar Anda tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap sehat secara mental. Strategi
ini berfokus pada keseimbangan dan self-care.
Dengan cara Jangan biarkan pekerjaan mengambil alih waktu pribadi dan tentukan
jam kerja yang tegas dan patuhi, sehingga ada waktu untuk istirahat dan
keluarga. Di sela-sela pekerjaan, istirahatlah sejenak (minum air, peregangan).
Pastikan Anda cukup tidur dan lakukan aktivitas fisik ringan, seperti berjalan
kaki atau olahraga. Temukan kegiatan baru yang Anda nikmati, seperti membaca
buku atau berkebun. Menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga juga sangat
penting untuk mengisi ulang energi emosional. Akui bahwa perasaan bosan atau
cemas adalah hal wajar. Latihan mindfulness atau pernapasan bisa membantu
menenangkan pikiran dan meningkatkan fokus di tengah rutinitas.
Pilihan
karyawan untuk bertahan dalam pekerjaan mereka saat ini merupakan respons yang
kompleks terhadap sebuah realitas yang penuh tekanan. Dari sisi eksternal,
ketidakstabilan ekonomi, ancaman PHK, dan pasar kerja yang kompetitif
menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat. Secara internal, ketakutan akan
ketidakpastian, keraguan diri, dan kebutuhan mendasar akan keamanan psikologis
semakin mengukuhkan keputusan untuk "berlabuh" dan memprioritaskan
stabilitas. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa fase bertahan ini tidak
harus identik dengan stagnasi. Justru di sinilah letak peluang tersembunyi.
Dengan menerapkan strategi pro-aktif karyawan dapat mengubah masa-masa
"diam" ini menjadi periode pertumbuhan personal dan profesional yang
sangat berharga. Mereka yang berhasil melakukan ini tidak hanya sekadar
bertahan, tetapi membangun fondasi yang lebih kokoh dan keterampilan yang lebih
adaptif untuk masa depan karier mereka. Oleh karena itu, output utama dari
penelitian ini adalah sebuah kerangka kerja yang menawarkan perubahan
perspektif job hugging bukanlah akhir dari perjalanan karier, melainkan sebuah
fase strategis untuk konsolidasi dan persiapan. Hasilnya adalah karyawan yang
lebih tangguh, reflektif, dan terampil seorang profesional yang, ketika kondisi
eksternal membaik, akan melesat dengan bekal yang jauh lebih matang
dibandingkan jika mereka hanya pasif menunggu. Pada akhirnya, makna dan
pertumbuhan bukanlah tujuan yang statis, melainkan sebuah proses berkelanjutan
yang bisa ditanamkan di mana pun kita berada.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan