P
Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Perundungan di Tempat Kerja (Ancaman Bagi Perilaku Keryawan dan Kesehatan Organisasi)

Perundungan di Tempat Kerja (Ancaman Bagi Perilaku Keryawan dan Kesehatan Organisasi)
Penulis

PERUNDUNGAN DI TEMPAT KERJA | Universitas Pertiba
Artikel • Universitas Pertiba

PERUNDUNGAN DI TEMPAT KERJA

(ANCAMAN BAGI PERILAKU KARYAWAN DAN KESEHATAN ORGANISASI)
Wulan GaleriaMahasiswa Semester VA, Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Tempat kerja semestinya menjadi ruang bagi setiap orang untuk mengembangkan kemampuan, bekerja sama, dan memberikan kontribusi. Namun, bagi sebagian karyawan, tempat kerja justru dapat menjadi sumber tekanan ketika mereka menghadapi bentakan, penghinaan, pengucilan, atau perlakuan tidak adil yang terjadi berulang kali. Situasi seperti ini tidak dapat dianggap sekadar persoalan hubungan pribadi, terutama ketika terdapat ketimpangan kekuasaan antara pihak yang melakukan dan pihak yang menjadi sasaran. Fenomena tersebut dikenal sebagai workplace bullying atau perundungan di tempat kerja. Perundungan dapat muncul di berbagai sektor, termasuk perbankan, perhotelan, ritel, transportasi, layanan kesehatan, pendidikan, maupun instansi pemerintahan. Bentuknya tidak selalu berupa kekerasan verbal secara terbuka. Pengucilan dari komunikasi tim, penyebaran rumor, pemberian tugas yang sengaja tidak wajar, hingga tindakan menghambat pekerjaan seseorang juga dapat menjadi bagian dari pola perundungan. Perlu dibedakan antara konflik kerja biasa dan perundungan. Perbedaan pendapat atau teguran terkait kinerja tidak otomatis merupakan perundungan. Perundungan umumnya ditandai oleh perlakuan negatif yang berulang atau berlangsung dalam jangka waktu tertentu, serta ketimpangan kekuasaan yang membuat sasaran kesulitan membela diri. Karena itu, kritik profesional harus disampaikan secara proporsional, berdasarkan fakta, dan tetap menghormati martabat karyawan.

Bentuk Perundungan di Tempat Kerja

Perundungan di tempat kerja dapat berlangsung secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk langsung antara lain membentak, mengejek, mengancam, mempermalukan seseorang di depan rekan kerja, atau terus-menerus merendahkan kemampuan pribadi. Bentuk tidak langsung dapat berupa mengucilkan karyawan dari informasi penting, menyebarkan kabar yang merusak reputasi, mengabaikan kontribusinya secara sistematis, atau menghambat pelaksanaan tugas. Dalam organisasi yang memiliki hierarki kuat, perundungan juga dapat tersembunyi di balik istilah senioritas, pendisiplinan, atau pembentukan mental. Padahal, pembinaan dan pengawasan kerja seharusnya bertujuan memperbaiki kinerja, bukan menimbulkan rasa takut atau mempermalukan individu. Penilaian perlu melihat pola, konteks, frekuensi, serta dampak perilaku, bukan hanya satu kejadian yang berdiri sendiri.

Teori untuk Memahami Dampak Perundungan

Affective Events Theory (AET) dari Weiss dan Cropanzano (1996) menjelaskan bahwa peristiwa yang dialami karyawan dalam keseharian kerja dapat memunculkan reaksi emosional, yang kemudian memengaruhi sikap dan perilaku. Dalam konteks perundungan, perlakuan merendahkan yang terjadi berulang dapat memicu rasa takut, marah, malu, atau cemas. Jika situasi tersebut tidak ditangani, karyawan mungkin menjadi lebih pasif, menghindari interaksi, atau kehilangan semangat untuk menyampaikan gagasan. Teori ini membantu organisasi memahami bahwa perilaku karyawan tidak hanya dipengaruhi oleh aturan dan target, tetapi juga oleh pengalaman emosional yang terbentuk selama bekerja. Conservation of Resources (COR) Theory yang dikembangkan Hobfoll (1989) menjelaskan bahwa individu berusaha memperoleh, mempertahankan, dan melindungi sumber daya yang dianggap penting. Sumber daya tersebut dapat berupa waktu, energi, rasa aman, harga diri, kemampuan, maupun dukungan sosial. Ancaman atau kehilangan sumber daya dapat menimbulkan stres. Perundungan dapat mengancam sumber daya tersebut. Karyawan yang terus-menerus menghadapi intimidasi mungkin menghabiskan banyak energi untuk mengantisipasi perlakuan buruk, menjaga diri, atau menghindari pelaku. Kondisi ini dapat berkontribusi pada kelelahan emosional dan mengurangi energi yang tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan. Respons setiap orang tentu berbeda, bergantung pada dukungan yang dimiliki dan situasi yang dihadapi. Social Exchange Theory (SET), yang antara lain dibahas oleh Homans (1958) dan Blau (1964), memandang hubungan sosial sebagai proses pertukaran yang melibatkan harapan akan timbal balik. Dalam hubungan kerja, karyawan tidak hanya menerima imbalan ekonomi, tetapi juga mengharapkan perlakuan adil, penghargaan, dan perlindungan yang wajar. Ketika organisasi mengetahui adanya perundungan tetapi membiarkannya, karyawan dapat menilai bahwa organisasi gagal memenuhi tanggung jawab sosialnya. Kepercayaan dan kemauan untuk memberikan kontribusi tambahan dapat melemah. Sebaliknya, respons organisasi yang adil dan konsisten dapat membantu memulihkan kepercayaan.

Ilustrasi Perundungan dalam Situasi Kerja

Sebagai contoh misalnya, Seorang pegawai baru terus-menerus diberi tugas paling berat, dimarahi di hadapan pelanggan, dan tidak diberi informasi operasional yang dibutuhkan. Jika tindakan tersebut dilakukan secara berulang dengan tujuan merendahkan atau membuat pegawai gagal, situasi itu dapat mengarah pada perundungan, bukan sekadar proses adaptasi kerja. Dalam rapat evaluasi, pegawai yang belum mencapai target dipermalukan dengan kata-kata yang merendahkan, sementara kesalahan kecil terus dicari untuk dijadikan bahan celaan. Evaluasi kinerja memang diperlukan, tetapi harus berfokus pada data, solusi, dan pembinaan. Penghinaan pribadi bukan metode pengelolaan kinerja yang sehat. Kedua contoh tersebut merupakan ilustrasi untuk menjelaskan konsep, bukan laporan tentang kasus tertentu yang telah diverifikasi. Dalam menilai dugaan perundungan, organisasi perlu mengumpulkan informasi secara objektif, mendengarkan semua pihak, dan memeriksa pola perilaku serta konteks kejadian.

Dampak terhadap Perilaku Karyawan

Karyawan yang merasa tidak aman dapat mulai menghindari interaksi dengan pelaku, mengurangi partisipasi dalam rapat, atau membatasi diri pada tugas-tugas yang diwajibkan. Penarikan diri dapat bersifat fisik, misalnya meningkatnya ketidakhadiran, maupun psikologis, seperti berkurangnya inisiatif dan keterlibatan. Istilah quiet quitting sering digunakan untuk menggambarkan kecenderungan membatasi kontribusi pada tanggung jawab formal, tetapi istilah ini tidak boleh langsung disamakan dengan kemalasan atau dianggap selalu disebabkan oleh perundungan. Pekerjaan yang berhadapan langsung dengan pelanggan sering menuntut karyawan untuk tetap ramah, tenang, dan empatik. Tuntutan mengelola ekspresi emosi ini dikenal sebagai emotional labor. Ketika energi emosional terkuras oleh konflik dan perundungan, sebagian karyawan dapat mengalami kesulitan mempertahankan kualitas interaksi dengan pelanggan. Dampaknya mungkin terlihat dalam komunikasi yang kurang sabar, menurunnya ketelitian, atau berkurangnya kemampuan merespons keluhan secara positif. Perundungan juga dapat menciptakan suasana ketika karyawan memilih diam karena takut mendapat konsekuensi jika menyampaikan pendapat atau membela rekan kerja. Fenomena employee silence ini berbahaya bagi organisasi. Informasi tentang kesalahan prosedur, risiko keselamatan, atau masalah pelayanan mungkin tidak disampaikan tepat waktu. Akibatnya, organisasi kehilangan kesempatan untuk mendeteksi dan memperbaiki masalah sejak awal. Dalam situasi tertentu, rasa frustrasi dan persepsi ketidakadilan dapat berkaitan dengan perilaku kerja kontraproduktif (counterproductive work behavior/CWB), seperti sengaja menunda pekerjaan atau memperlakukan rekan kerja secara tidak pantas. Namun, tidak semua korban perundungan akan merespons dengan cara tersebut. Ada pula karyawan yang mencari dukungan, melaporkan kejadian, menarik diri, atau memilih meninggalkan organisasi. Oleh karena itu, CWB perlu dipahami sebagai salah satu kemungkinan respons, bukan akibat yang pasti.

Dampak terhadap Tim dan Kesehatan Organisasi

Dampak perundungan tidak berhenti pada individu. Ketika perilaku tersebut dibiarkan, koordinasi tim dapat terganggu, kepercayaan terhadap pimpinan menurun, dan karyawan enggan berbagi informasi. Organisasi juga berisiko menghadapi peningkatan ketidakhadiran dan pergantian karyawan, biaya rekrutmen serta pelatihan yang lebih besar, dan penurunan konsistensi pelayanan. Dalam sektor jasa, kualitas hubungan antarkaryawan dapat memengaruhi pengalaman pelanggan. Tim yang tidak saling percaya akan lebih sulit berkoordinasi, terutama ketika harus menangani permintaan atau keluhan dengan cepat. Dengan demikian, pencegahan perundungan bukan hanya agenda kesejahteraan karyawan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga mutu layanan dan keberlanjutan organisasi. Pencegahan perundungan membutuhkan komitmen pimpinan dan sistem yang dapat dipercaya. Beberapa langkah berikut dapat diterapkan oleh organisasi dari berbagai sektor:

Langkah Pencegahan dan Penanganan

Menetapkan kebijakan yang jelas. Organisasi perlu menjelaskan perilaku yang tidak dapat diterima, mekanisme penanganan, perlindungan terhadap pelapor, serta konsekuensi yang proporsional bagi pelanggaran.

Menyediakan kanal pelaporan yang aman. Karyawan harus memiliki akses untuk menyampaikan pengaduan secara rahasia, termasuk pilihan pelaporan anonim jika sistem organisasi memungkinkan. Setiap laporan perlu ditindaklanjuti secara objektif dan tidak boleh memicu tindakan balasan.

Membangun kepemimpinan yang etis. Pimpinan dan penyelia perlu memberi umpan balik berdasarkan fakta, menghindari penghinaan, serta menunjukkan keteladanan dalam menghormati setiap anggota tim.

Mengembangkan budaya aman untuk berbicara. Organisasi perlu mendorong karyawan menyampaikan ide, pertanyaan, dan kekhawatiran tanpa takut dipermalukan atau dihukum secara tidak adil.

Memberikan dukungan kepada pihak terdampak. Akses konsultasi, pendampingan, dan rujukan bantuan profesional dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan serta kemampuan organisasi.

Melakukan evaluasi berkala. Organisasi dapat memantau iklim kerja, pola pengaduan, ketidakhadiran, pergantian karyawan, dan hasil survei karyawan untuk mengidentifikasi risiko sejak dini.

Perundungan di tempat kerja bukan persoalan sepele dan tidak tepat diselesaikan dengan meminta korban untuk sekadar bersabar atau memperkuat mental. Melalui Affective Events Theory, organisasi dapat memahami dampak peristiwa kerja terhadap emosi dan perilaku. Conservation of Resources Theory menjelaskan bagaimana perundungan mengancam sumber daya psikologis karyawan, sedangkan Social Exchange Theory menunjukkan bahwa pembiaran ketidakadilan dapat merusak kepercayaan dan hubungan timbal balik. Organisasi yang sehat tidak dibangun melalui rasa takut, penghinaan, atau penyalahgunaan kekuasaan. Organisasi tumbuh ketika setiap orang diperlakukan secara bermartabat, aturan diterapkan secara adil, dan masalah dapat disampaikan tanpa ancaman. Mencegah perundungan berarti melindungi karyawan sekaligus menjaga kualitas kerja, pelayanan, dan keberlanjutan organisasi.

Referensi

  1. Blau, P. M. (1964). Exchange and power in social life. New York: Wiley.
  2. Edmondson, A. (1999). Psychological Safety and Learning Behaviour in Work Teams. Administrative Science Quarterly, 44, 350-383. https://doi.org/10.2307/2666999
  3. Hobfoll, S. E. (1989). Conservation of resources: A new attempt at conceptualizing stress. American Psychologist, 44(3), 513–524. https://doi.org/10.1037/0003-066X.44.3.513
  4. Homans, G. C. (1958). Social Behavior as Exchange. American Journal of Sociology, 63, 597-606. http://dx.doi.org/10.1086/222355
  5. Nielsen, M. B., & Einarsen, S. (2012). Outcomes of Exposure to Workplace Bullying: A Meta-Analytic Review. Work & Stress, 26, 309-332. https://doi.org/10.1080/02678373.2012.734709
  6. Weiss, H. M., & Cropanzano, R. (1996). Affective Events Theory: A theoretical discussion of the structure, causes and consequences of affective experiences at work. In B. M. Staw & L. L. Cummings (Eds.), Research in organizational behavior: An annual series of analytical essays and critical reviews, Vol. 18, pp. 1–74). Elsevier Science/JAI Press.
Artikel ini disajikan untuk publikasi informasi dan pengetahuan pada website kampus.