Knowledge Hiding dalam Organisasi
Setiap organisasi bergantung pada kerja
sama dan pertukaran pengetahuan. Di perusahaan, instansi pemerintah, sekolah,
perguruan tinggi, rumah sakit, maupun organisasi sosial, orang-orang
membutuhkan informasi dan pengalaman rekan kerja untuk menyelesaikan tugas.
Pengetahuan tentang prosedur, penggunaan sistem, penanganan masalah, atau
pengalaman menghadapi situasi tertentu dapat membantu pekerjaan berjalan lebih
lancar. Namun, pengetahuan tidak selalu dibagikan ketika dibutuhkan. Ada
kalanya seseorang sengaja menahan informasi atau memberikan jawaban yang tidak
membantu saat rekan meminta penjelasan. Perilaku ini dikenal sebagai knowledge
hiding, yaitu upaya sengaja menyembunyikan atau menahan pengetahuan yang
diminta orang lain, sebagaimana dijelaskan oleh Connelly dan rekan-rekannya
(2012). Knowledge hiding bukan
sekadar tidak tahu atau tidak mampu menjawab. Perilaku ini terjadi ketika
seseorang memiliki atau menguasai informasi yang diminta, tetapi dengan sengaja
tidak memberikannya. Knowledge hiding
dapat muncul dalam berbagai konteks kerja dan tidak terbatas pada satu jenis
organisasi. Dampaknya bukan hanya berkaitan dengan kelancaran tugas, tetapi
juga dapat memengaruhi kepercayaan, hubungan antarpegawai, kolaborasi, dan
efektivitas organisasi. Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat bukan hanya
perilaku individu, melainkan juga hubungan sosial dan kondisi kerja yang
mungkin mendorong seseorang menahan pengetahuan.
Connelly dan rekan-rekannya (2012)
menguraikan tiga bentuk knowledge hiding.
Pertama, playing dumb, yaitu
berpura-pura tidak mengetahui informasi yang diminta. Kedua, evasive hiding, yaitu memberikan jawaban
mengelak atau tidak lengkap, atau menjanjikan bantuan yang sebenarnya tidak
akan diberikan. Ketiga, rationalized
hiding, yaitu menolak berbagi informasi dengan menyebut alasan tertentu,
misalnya informasi dianggap rahasia atau berada di luar kewenangan. Contohnya
dapat ditemukan dalam berbagai lingkungan kerja. Seorang pegawai mungkin
berpura-pura tidak mengetahui cara menggunakan sistem yang sebenarnya
dikuasainya, memberikan petunjuk yang sengaja tidak lengkap, atau menghindari
pertanyaan rekan agar keahliannya tetap menjadi keunggulan pribadi. Namun,
tidak semua penolakan berbagi informasi termasuk knowledge hiding. Jika
informasi bersifat rahasia, mengandung data pribadi, atau hanya boleh diakses
pihak tertentu, menolak memberikannya dapat menjadi tindakan profesional yang
tepat.
Knowledge
hiding dapat dipengaruhi oleh hubungan
antarpegawai, rasa memiliki atas pengetahuan, serta upaya melindungi sumber
daya pribadi. Ketiga hal ini dapat dipahami melalui Teori Pertukaran Sosial,
Teori Kepemilikan Psikologis, dan Teori Konservasi Sumber Daya. Setiap teori
menyoroti sisi yang berbeda, tetapi bersama-sama membantu menjelaskan mengapa
seseorang mungkin memilih untuk tidak membagikan informasi.
Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory atau SET), oleh Cropanzano dan Mitchell (2005),
memandang hubungan kerja sebagai pertukaran berbagai hal, seperti bantuan,
informasi, dukungan, pengakuan, dan rasa hormat. Pegawai yang merasa hubungan
berjalan seimbang mungkin lebih bersedia membantu rekan. Sebaliknya, jika ia
merasa terus diminta membantu tanpa memperoleh dukungan atau penghargaan yang
wajar, ia dapat mengurangi keterlibatannya. Misalnya, seseorang yang berulang
kali membantu rekan tetapi tidak pernah mendapat bantuan saat membutuhkannya
mungkin mulai merasa hubungan tersebut berjalan satu arah. Perasaan itu dapat
memengaruhi kesediaannya untuk berbagi pengetahuan berikutnya. Pertukaran
sosial tidak berarti setiap bantuan harus dibalas secara langsung dengan
bantuan yang sama. Timbal balik dapat terjadi dalam jangka waktu tertentu dan
dalam bentuk yang berbeda. Organisasi yang mendorong hubungan saling
menghormati dan menghargai kontribusi dapat membantu membangun iklim kerja yang
mendukung berbagi pengetahuan.
Teori Kepemilikan Psikologis (Psychological Ownership Theory), yang
dibahas oleh Pierce dan rekan-rekannya (2001, 2003), menjelaskan perasaan bahwa
sesuatu adalah “milik saya”, meskipun tidak dimiliki secara hukum. Dalam
pekerjaan, seseorang dapat menganggap pengalaman, keahlian, atau informasi
tertentu sebagai bagian dari nilai profesional dan identitasnya. Pegawai yang
merasa bahwa pengetahuan khusus membuat dirinya penting mungkin khawatir
kehilangan pengakuan atau pengaruh jika pengetahuan itu dibagikan. Kekhawatiran
tersebut dapat mendorongnya menyimpan informasi atau hanya membagikan sebagian
pengetahuan, sebagaimana dibahas dalam penelitian Peng (2013). Perasaan
memiliki pengetahuan tidak selalu negatif. Rasa tanggung jawab terhadap
keahlian dapat mendorong seseorang menjaga kualitas dan memastikan informasi
digunakan secara benar. Masalah muncul ketika rasa memiliki berkembang menjadi
keyakinan bahwa pengetahuan harus dipertahankan untuk kepentingan pribadi,
meskipun informasi tersebut dibutuhkan untuk pekerjaan bersama. Ketika hanya
satu orang menguasai informasi penting, rekan kerja dapat menjadi terlalu
bergantung kepadanya dan hubungan kerja berisiko menjadi tidak setara.
Teori Konservasi Sumber Daya (Conservation of Resources atau COR
Theory), karya Hobfoll dan rekan-rekannya (2018), menjelaskan bahwa orang
berupaya melindungi sumber daya yang dianggap berharga, seperti waktu, tenaga,
energi, status, keamanan kerja, dukungan sosial, dan keahlian. Pegawai yang
merasa sudah terbebani mungkin khawatir bahwa menjelaskan suatu pekerjaan
kepada rekan akan menambah tanggung jawabnya. Orang lain mungkin takut
pengetahuan yang dibagikan akan digunakan tanpa pengakuan atau mengurangi
keunggulan profesionalnya. Dalam keadaan tersebut, menahan pengetahuan dapat
terasa sebagai cara melindungi sumber daya yang dimiliki. Serenko dan Bontis
(2016) turut membahas perilaku menyembunyikan pengetahuan dalam konteks
organisasi.
Ketiga teori tersebut saling melengkapi.
Teori Pertukaran Sosial menyoroti persepsi dukungan dan timbal balik; Teori
Kepemilikan Psikologis menjelaskan rasa memiliki atas pengetahuan; sedangkan
Teori Konservasi Sumber Daya membantu memahami dorongan melindungi waktu,
tenaga, status, atau keahlian. Penjelasan ini merupakan kerangka untuk memahami
kemungkinan penyebab knowledge hiding,
bukan bukti bahwa semua pegawai yang menahan informasi memiliki motif yang
sama.
Ketika informasi yang dibutuhkan tidak
tersedia, rekan kerja mungkin mengalami kesulitan menyelesaikan tugas,
mengulang pekerjaan, atau menghabiskan waktu mencari informasi dari sumber
lain. Jika hal ini terjadi berulang, proses kerja dapat menjadi kurang efisien
dan organisasi semakin bergantung pada orang-orang tertentu. Ketergantungan
tersebut dapat menghambat alih pengetahuan, terutama ketika pegawai pindah
tugas, meninggalkan organisasi, atau tidak dapat dihubungi. Knowledge hiding juga dapat memengaruhi
hubungan antarpegawai. Pihak yang tidak memperoleh informasi mungkin merasa
tidak dipercaya atau tidak dihargai, sedangkan pihak yang menahan pengetahuan
mungkin merasa semakin sering dimintai bantuan atau khawatir kehilangan keunggulan.
Tanpa komunikasi terbuka, kedua pihak dapat masuk ke dalam lingkaran yang
merugikan satu pihak semakin menahan informasi, sementara pihak lain semakin
bergantung atau frustrasi. Namun, tidak setiap keterlambatan memberikan
informasi merupakan tindakan sengaja. Seseorang mungkin sedang memiliki beban
kerja tinggi, tidak yakin pada keakuratan informasi, belum memperoleh izin
untuk membagikannya, atau memang tidak mengetahui jawabannya. Karena itu,
penilaian terhadap knowledge hiding
perlu mempertimbangkan niat, konteks, serta aturan akses informasi yang
berlaku.
Membangun budaya berbagi pengetahuan tidak
cukup dilakukan dengan meminta pegawai agar lebih terbuka. Organisasi perlu
menciptakan kondisi yang membuat berbagi pengetahuan terasa aman, adil, dan
bermanfaat bagi pekerjaan bersama. Pertama, bangun komunikasi yang sehat agar
pegawai dapat menjelaskan kebutuhan, keterbatasan waktu, dan alasan ketika
informasi belum dapat diberikan. Penjelasan yang jujur dapat mencegah penolakan
yang sah disalahartikan sebagai upaya menyembunyikan pengetahuan. Kedua,
perjelas pembagian tugas dan tanggung jawab. Jika pegawai khawatir bahwa setiap
bantuan akan berujung pada tambahan pekerjaan tanpa batas, mereka mungkin
enggan berbagi. Pembagian kerja yang transparan dan pengaturan beban yang wajar
membantu mengurangi kekhawatiran tersebut. Ketiga, hargai kontribusi dalam
bentuk berbagi pengalaman, membantu rekan, mendampingi anggota baru, dan
mendokumentasikan pengetahuan kerja. Pengakuan terhadap kontribusi ini membantu
menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan bagian penting dari keberhasilan
organisasi. Keempat, dokumentasikan prosedur dan pengetahuan kerja agar
informasi penting tidak hanya tersimpan dalam ingatan satu orang. Panduan
kerja, catatan proses, sistem pengetahuan internal, dan forum berbagi
pengalaman dapat membantu pihak yang berwenang memperoleh informasi secara
lebih konsisten. Kelima, bangun kepercayaan dan rasa aman untuk bertanya.
Pegawai perlu merasa bahwa meminta bantuan tidak akan membuat mereka
dipermalukan atau dianggap tidak kompeten.
Pada saat yang sama, budaya berbagi harus
tetap menghormati kerahasiaan dan batas kewenangan. Organisasi perlu
menjelaskan informasi apa yang dapat dibagikan, siapa yang berhak mengaksesnya,
serta jalur yang tepat untuk meminta data atau dokumen. Keterbukaan bukan berarti
semua informasi boleh diberikan kepada siapa pun. Kejelasan aturan membantu
membedakan perlindungan informasi yang sah dari penahanan pengetahuan yang
tidak mendukung kerja sama. Knowledge hiding merupakan tantangan yang dapat
muncul di berbagai jenis organisasi ketika seseorang dengan sengaja menahan
pengetahuan yang diminta rekan kerja. Perilaku ini dapat berkaitan dengan
persepsi timbal balik, rasa memiliki atas keahlian, atau upaya melindungi
sumber daya pribadi. Jika dibiarkan, knowledge
hiding berpotensi memperlambat pekerjaan, meningkatkan ketergantungan pada
individu tertentu, dan merusak kepercayaan antarpegawai. Karena itu, organisasi
perlu membangun budaya berbagi melalui komunikasi terbuka, pembagian tugas yang
adil, penghargaan terhadap kolaborasi, dokumentasi pengetahuan, serta aturan
akses informasi yang jelas. Tujuannya bukan memaksa setiap orang membagikan
seluruh informasi tanpa batas, melainkan memastikan pengetahuan yang memang
dapat dibagikan tersedia bagi pihak yang membutuhkannya. Hubungan kerja yang
sehat tumbuh ketika pegawai merasa dihargai, memiliki ruang untuk menyampaikan
keterbatasan, dan dapat saling mendukung tanpa takut dimanfaatkan. Dengan
kondisi tersebut, pengetahuan dapat menjadi sumber daya bersama yang memperkuat
kolaborasi dan efektivitas organisasi, bukan sekadar alat untuk mempertahankan
keunggulan pribadi.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan