P
Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Humor di Tempat Kerja: Perekat Hubungan Antarpegawai atau Pemicu Konflik?

Humor di Tempat Kerja: Perekat Hubungan Antarpegawai atau Pemicu Konflik?
Penulis

Humor di Tempat Kerja: Perekat Hubungan Antarpegawai atau Pemicu Konflik? | Universitas Pertiba
Artikel Opini · Universitas Pertiba

Humor di Tempat Kerja: Perekat Hubungan Antarpegawai atau Pemicu Konflik?

Memahami bagaimana candaan dapat membangun kedekatan, menjaga komunikasi, atau justru memicu konflik di lingkungan kerja.

Mahasiswa Semester 5C Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pertiba

Poin utama

Humor dapat mempererat hubungan kerja, tetapi candaan yang merendahkan dapat merusak kepercayaan dan komunikasi.

Tidak semua persoalan di tempat kerja bermula dari beban tugas atau target yang tinggi. Terkadang, persoalan justru muncul dari sesuatu yang tampak sepele, sebuah candaan. Ada candaan yang membuat rekan kerja semakin akrab, tetapi ada pula yang meninggalkan rasa tersinggung meskipun diakhiri dengan kalimat, “Bercanda saja, kok.” Di sinilah humor menjadi menarik untuk dibahas sesuatu yang mengundang tawa bagi seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Tempat kerja bukan hanya ruang untuk menyelesaikan tugas dan mencapai target organisasi. Di dalamnya, pegawai berkomunikasi, berkolaborasi, menghadapi tekanan, dan membangun hubungan dengan orang lain. Hubungan yang baik dapat membantu pekerjaan berjalan lebih lancar: informasi lebih mudah disampaikan, masalah lebih cepat dibicarakan, dan anggota tim lebih bersedia saling membantu. Dalam interaksi sehari-hari itulah humor sering hadir, baik melalui candaan ringan, cerita lucu, maupun komentar spontan. Ketika digunakan secara tepat, humor dapat mencairkan suasana dan memberi jeda di tengah pekerjaan yang padat. Namun, ketika candaan diarahkan untuk merendahkan, menyindir, atau mempermalukan seseorang, dampaknya bisa berlawanan. Humor tidak lagi menjadi sarana mendekatkan orang, melainkan justru menciptakan jarak. Karena itu, humor perlu dipahami sebagai bagian dari komunikasi organisasi yang dapat memperkuat maupun merusak hubungan kerja.

Candaan/humor yang diterima dengan baik dapat membuka percakapan dan mengurangi jarak sosial. Bayangkan seorang pegawai menceritakan pengalaman lucu setelah menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan. Rekan-rekannya ikut tertawa dan berbagi cerita serupa. Interaksi sederhana ini dapat menciptakan pengalaman menyenangkan bersama dan membuat hubungan terasa lebih akrab, tanpa harus menghilangkan tanggung jawab profesional. Cooper (2008) menjelaskan bahwa humor dapat membentuk dan memelihara hubungan, tetapi juga dapat menghambat atau merusaknya. Artinya, humor tidak otomatis berdampak positif. Pengaruhnya bergantung pada proses interaksi, hubungan di antara orang-orang yang terlibat, dan cara candaan tersebut dimaknai. Ukurannya bukan sekadar apakah sebuah lelucon dianggap lucu oleh orang yang menyampaikannya, melainkan juga apakah orang lain merasa dihargai dan diterima.

Hal yang perlu diingat

Ukuran humor yang sehat bukan hanya apakah lelucon terasa lucu bagi penyampainya, tetapi juga apakah orang lain merasa dihargai dan diterima.

Humor yang positif dapat membuat komunikasi terasa lebih ringan. Dalam hubungan kerja yang nyaman, pegawai mungkin lebih mudah memulai percakapan, bertanya, meminta bantuan, atau menyampaikan pendapat. Ketika tekanan meningkat, candaan yang sesuai juga dapat menjadi jeda sejenak sebelum pekerjaan dilanjutkan. Dalam tinjauan sistematis tentang humor dalam komunikasi antarpegawai, Taylor, Simpson, dan Hardy (2022) mengidentifikasi fungsi humor, antara lain membangun kelompok, menunjukkan pengaruh sosial, dan meredakan ketegangan. Namun, humor juga dapat membentuk batas sosial: candaan yang hanya dinikmati sebagian orang bisa membuat pegawai lain merasa tidak dilibatkan. Dengan kata lain, humor dapat memperkuat kebersamaan, tetapi juga berpotensi membuat sebagian orang merasa berada di luar kelompok. Humor yang digunakan secara tepat oleh pemimpin juga dapat membuat komunikasi antara atasan dan bawahan terasa lebih terbuka. Martin, Rich, dan Gayle (2004) menunjukkan bahwa humor dalam percakapan manajer dan bawahan memiliki fungsi positif dan ekspresif, tetapi penggunaannya dipengaruhi oleh karakter hubungan dan perbedaan kekuasaan. Candaan dari atasan, misalnya, bisa terasa berbeda karena bawahan mungkin merasa tidak leluasa untuk menyatakan keberatan.

Humor positif adalah candaan yang tidak merendahkan orang lain, disampaikan pada waktu yang tepat, dan dapat dinikmati bersama. Menceritakan pengalaman lucu tanpa mempermalukan rekan kerja merupakan salah satu contohnya. Sebaliknya, humor negatif dapat berupa ejekan, sindiran personal, candaan diskriminatif, atau lelucon yang terus-menerus diarahkan kepada orang yang sama. Candaan tentang fisik, latar belakang, kemampuan, kehidupan pribadi, gender, agama, atau usia dapat terasa menghina ketika merendahkan atau menimbulkan ketidaknyamanan. Orang yang menyampaikan mungkin menganggapnya sekadar hiburan, sedangkan orang yang menjadi sasaran merasa malu, tersinggung, atau tidak dihargai. Jika berlangsung berulang kali, keadaan ini dapat mengurangi kepercayaan, memicu konflik, dan merusak hubungan profesional. Persoalannya bukan hanya soal perbedaan selera humor. Pegawai yang berulang kali menjadi sasaran ejekan mungkin memilih diam, menghindari rekan kerja, atau enggan menyampaikan pendapat dalam diskusi. Akibatnya, informasi dan gagasan yang penting bagi pekerjaan bisa tidak tersampaikan. Candaan yang tidak tepat juga dapat mengganggu konsentrasi dan menunda penyelesaian tugas, terutama ketika rapat, pelayanan, keselamatan, atau ketelitian sedang menjadi prioritas.

Ada beberapa hal yang menentukan bagaimana humor diterima. Pertama, niat orang yang menyampaikannya. Candaan untuk membangun keakraban berbeda dari candaan yang bertujuan merendahkan, meskipun niat baik pun tidak menjamin orang lain akan merasa nyaman. Kedua, hubungan antarindividu. Candaan antara rekan yang sudah dekat mungkin diterima berbeda dibandingkan candaan dari orang yang belum dikenal dengan baik. Ketiga, situasi dan waktu. Humor yang cocok saat istirahat belum tentu tepat ketika rapat penting berlangsung atau ketika pegawai sedang memberikan pelayanan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Keempat, respons orang yang mendengarkan. Candaan yang biasa bagi satu orang bisa terasa menyakitkan bagi orang lain. Karena itu, penting untuk memperhatikan reaksi rekan kerja dan bersedia meminta maaf jika candaan menimbulkan ketidaknyamanan. Kelima, posisi dan kekuasaan. Candaan dari atasan dapat memiliki dampak berbeda karena bawahan mungkin merasa sulit menolak atau mengungkapkan keberatan kepada orang yang berwenang atas tugas dan penilaian kinerjanya. Kepekaan terhadap situasi, perbedaan, dan dampak perilaku terhadap orang lain merupakan bagian penting dari komunikasi profesional.

Berdasarkan kajian mengenai humor dalam hubungan kerja dan komunikasi antarpegawai, terdapat beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan organisasi untuk menciptakan penggunaan humor yang sehat. Agar humor menjadi perekat hubungan, bukan pemicu konflik, organisasi dan pemimpin perlu membangun budaya komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan tetap profesional. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Mendorong humor positif. Pegawai dapat menggunakan candaan ringan yang bisa dinikmati bersama dan tidak menyerang identitas, kondisi pribadi, atau kemampuan seseorang. Humor seharusnya membangun kedekatan, bukan menjadi alat untuk merendahkan.

Menetapkan batas yang jelas. Organisasi perlu menegaskan bahwa candaan yang mengandung penghinaan, pelecehan, atau diskriminasi tidak dapat dibenarkan. Kebebasan bercanda tetap harus menghormati martabat dan hak orang lain.

Membuka ruang komunikasi yang aman. Pegawai perlu dapat menyampaikan bahwa suatu candaan membuat mereka tidak nyaman tanpa takut dibalas atau dikucilkan. Organisasi perlu mendorong sikap saling mendengarkan dan penyelesaian masalah secara konstruktif.

Memberikan teladan melalui kepemimpinan. Atasan perlu menunjukkan cara berhumor yang menghargai semua pegawai, tidak mempermalukan bawahan, dan tidak menggunakan jabatan untuk membenarkan candaan yang merendahkan. Sikap pemimpin menjadi contoh bagi pola komunikasi di tempat kerja.

Menjaga keseimbangan dengan produktivitas. Humor perlu digunakan sesuai situasi dan tidak menghambat pelayanan, keselamatan, konsentrasi, atau penyelesaian tugas. Keakraban tetap harus berjalan seiring dengan disiplin dan tanggung jawab.

Humor merupakan bagian dari dinamika hubungan antarpegawai. Jika digunakan secara positif dan sesuai situasi, humor dapat mencairkan suasana, mengurangi ketegangan, mempererat hubungan sosial, serta mendukung komunikasi dan kerja sama tim. Namun, humor yang merendahkan atau mendiskriminasi dapat mengurangi rasa aman, menurunkan kepercayaan, dan merusak komunikasi. Lingkungan kerja yang sehat bukanlah lingkungan yang selalu serius tanpa tawa. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menempatkan humor secara bijaksana, dengan mempertimbangkan perasaan orang lain, konteks interaksi, dan batas profesional. Organisasi pun perlu menghargai perbedaan dan menyediakan ruang komunikasi yang aman bagi semua pegawai. Pada akhirnya, tujuan humor di tempat kerja bukan membuat seseorang menjadi bahan tertawaan, melainkan menciptakan kebersamaan. Candaan yang baik membuat orang dapat tertawa bersama tanpa ada yang merasa direndahkan. Ketika rasa hormat tetap menjadi batasnya, humor dapat menjadi bagian dari budaya kerja yang lebih sehat, inklusif, dan profesional.

Referensi

  1. Cooper, C. (2008). Elucidating the bonds of workplace humor: A relational process model. Human Relations, 61(8), 1087–1115. https://doi.org/10.1177/0018726708094861
  2. Martin, D. M., Rich, C. O., & Gayle, B. M. (2004). Humor works: Communication style and humor functions in manager/subordinate relationships. Southern Communication Journal, 69(3), 206–222. https://doi.org/10.1080/10417940409373293
  3. Taylor, S., Simpson, J., & Hardy, C. (2022). The use of humor in employee-to-employee workplace communication: A systematic review with thematic synthesis. Business and Professional Communication Quarterly, 62(1). https://doi.org/10.1177/23294884211069966