Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)

ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB)
REFTA BAMBAN SEPTRIAN Mahasiswa Semester 5 Fakultas Ekonomika dan Bisnis Email: Reftabambangs@gmail.com

Organizational Citizenship Behavior (OCB) diakui sebagai komponen penting dalam kajian perilaku organisasional. Konsep ini merujuk pada aktivitas kerja sukarela yang umumnya tidak dievaluasi secara formal. Terdapat dua pandangan utama mengenai OCB. Pertama, OCB dipahami sebagai kinerja tambahan yang terpisah dari tugas formal sesuai deskripsi jabatan. Kedua, OCB dinilai berdasarkan prinsip-prinsip filsafat politik yang memandang perilaku anggota organisasi sebagai bentuk tindakan kewarganegaraan dalam konteks organisasi.

Perkembangan dunia kerja global di abad ke-21 ditandai oleh perubahan struktural organisasi, kemajuan teknologi, serta kebutuhan akan kerja tim yang dinamis. Organisasi modern menuntut kolaborasi tinggi, fleksibilitas, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Dalam situasi tersebut, keberhasilan organisasi tidak hanya bertumpu pada kompetensi teknis, tetapi juga pada perilaku nonformal yang mendukung efektivitas kerja tim dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Salah satu konsep yang relevan untuk menjelaskan fenomena ini adalah OCB, yakni perilaku sukarela yang melampaui kewajiban formal namun memberikan dampak positif terhadap produktivitas dan efektivitas organisasi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa OCB memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kerja sama dan kinerja organisasi. Wibowo & Handayani (2020) menemukan bahwa OCB berkorelasi positif dengan kohesi tim dan kepuasan kerja. Sementara itu, Sari & Putra (2021) membuktikan bahwa karyawan dengan tingkat OCB tinggi cenderung menunjukkan loyalitas serta kolaborasi yang lebih kuat. Dalam konteks organisasi modern yang menekankan fleksibilitas dan otonomi, seperti manajemen berbasis nilai, OCB semakin berkembang sebagai perilaku yang didorong oleh sistem kerja partisipatif. Bahkan, Kementerian Ketenagakerjaan RI telah menerbitkan panduan peningkatan budaya kerja positif guna mendorong produktivitas berbasis partisipasi aktif karyawan.

Dalam dinamika organisasi yang semakin kompleks dan kompetitif, penting bagi manajemen untuk memahami serta mendorong perilaku OCB sebagai fondasi keberhasilan kerja tim. Organisasi yang tidak semata-mata menekankan hasil kerja formal, tetapi juga membangun budaya kolaboratif melalui penguatan OCB, akan lebih unggul secara kompetitif. Dengan demikian, OCB merupakan aset psikologis dan sosial yang strategis dalam pengembangan SDM.

Peran dan aktivitas karyawan memiliki dampak penting bagi keberhasilan organisasi. Robbins (2008) menegaskan bahwa organisasi yang berhasil membutuhkan karyawan yang bersedia melampaui tugas resmi dan bekerja di atas standar. Dalam lingkungan kerja yang semakin kolaboratif dan dinamis, fleksibilitas menjadi faktor penting. Karyawan diharapkan mampu menjalankan berbagai tugas di luar deskripsi jabatan, seperti membantu rekan kerja yang terbebani atau bekerja di luar jam kantor bila diperlukan. Robbins dan Judge (2008) juga menunjukkan bahwa organisasi dengan tingkat OCB tinggi cenderung memiliki kinerja yang lebih baik karena perilaku tersebut muncul dari rasa kepemilikan serta kepuasan dalam memberikan kontribusi tambahan.

Secara konseptual, OCB merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku sukarela yang dilakukan karyawan di luar tanggung jawab formal mereka, tetapi tetap memberikan kontribusi positif bagi organisasi. Diperkenalkan oleh Organ (1988), konsep ini menggambarkan karyawan yang “lebih dari sekadar pegawai” karena rela membantu rekan kerja, menjaga suasana kerja yang harmonis, serta berinisiatif terlibat dalam aktivitas organisasi tanpa diperintah. OCB terdiri dari beberapa dimensi penting, seperti altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, dan civic virtue. Dalam organisasi yang bergerak cepat dan kolaboratif, karyawan dengan OCB tinggi merupakan aset yang sangat bernilai.

 

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi OCB

1.     Budaya dan Iklim Organisasi

Konovsky dan Pugh (1994) menjelaskan melalui teori pertukaran sosial bahwa karyawan yang puas dengan pekerjaannya akan menunjukkan rasa kepemilikan terhadap organisasi dan membalasnya melalui perilaku kewarganegaraan.

2.     Kepribadian dan Suasana Hati

Elanain (2007) menegaskan bahwa kepribadian berperan penting dalam aktivitas kerja, sehingga seleksi karyawan dengan karakter yang tepat dapat meningkatkan OCB. Penelitian Purba dan Seniati (2004) menunjukkan bahwa kepribadian berpengaruh signifikan terhadap OCB, terutama dalam budaya Indonesia yang menekankan kebersamaan dan solidaritas.

3.     Dukungan Organisasi

Shore dan Wayne (1993) menemukan bahwa persepsi dukungan organisasi (POS) merupakan prediktor penting OCB. Karyawan yang merasa didukung akan membalas dukungan tersebut melalui perilaku kewarganegaraan.

4.     Kualitas Interaksi Atasan–Bawahan

Menurut Novliadi (2006), persepsi kualitas interaksi antara atasan dan bawahan dapat meningkatkan OCB. Wayne, Shore, dan Liden (1997) menambahkan bahwa interaksi berkualitas tinggi mendorong karyawan untuk melaksanakan tugas di luar rutinitas.

5.     Masa Kerja

Sommer, Bae, dan Luthans (1996) menyatakan bahwa masa kerja merupakan prediktor OCB karena berkaitan dengan besarnya investasi karyawan dalam organisasi.

 

6.     Jenis Kelamin

Morrison (1994) menemukan perbedaan persepsi OCB antara pria dan wanita. Wanita cenderung menganggap OCB sebagai bagian dari tugas peran, sementara pria memandangnya sebagai perilaku ekstra.

Dimensi-Dimensi OCB

Menurut Organ et al. (1988), terdapat lima dimensi utama OCB, kemudian Morgan (1990) menambahkan dua dimensi tambahan:

1.     Altruism, perilaku menolong rekan kerja tanpa mengharapkan imbalan.

2.     Conscientiousness, perilaku melampaui standar yang diharapkan secara sukarela.

3.     Sportsmanship, kesediaan mentoleransi kondisi kurang ideal tanpa keluhan.

4.     Courtesy, menjaga hubungan baik untuk mencegah konflik interpersonal.

5.     Civic Virtue, bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan organisasi.

6.     Peacekeeping, upaya mencegah dan menyelesaikan konflik interpersonal.

7.     Cheerleading, memberikan dukungan kepada rekan kerja untuk mencapai prestasi lebih tinggi.